Kesenian Wayang Cirebon Mulai Terkikis Zaman

561 views

Wayang-GolekBanner-MentariSeiring perkembangan zaman, budaya mulai terkikis oleh perkembangan teknologi yang sudah serba modern. banyak budaya lain yang saat ini sudah semakin di tinggalkan namun ada beberapa budaya yang masih cukup bertahan menghadapi gentirnya perkembangan zaman saat ini salah satunya adalah Wayang kulit Cirebon.

Wayang adalah salah satu identitas kebudayaan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa yang sangat lekat dengan kesenian wayang dalam kehidupan mereka. Jenis wayang pun bermacam-macam diantaranya: wayang orang/wong (yang berkembang di Jawa Timur), wayang kulit (berkembang di Jawa Tengah dan Yogyakarta), dan wayang golek (berbentuk boneka kayu yang berkembang di Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan).

Wayang wong biasanya diperankan oleh manusia dan wayang golek umumnya berbentuk boneka kayu sehingga memiliki bentuk tiga dimensi. Sementara wayang kulit berbentuk dua dimensi di mana dalam setiap pertunjukan yang ditonton oleh penonton adalah bayangan wayang yang ditampilkan pada layar.

Dalam pementasannya wayang memiliki pakem atau sempalan cerita yang hampir sama yaitu umumnya menampilkan kisah Ramayana dan Mahabharata. Namun dalam setiap pertunjukan, dalang memiliki keleluasaan untuk memodifikasi alur cerita atau menambahkan pesan-pesan moral dalam lakon yang akan disampaikan.

Kerajinan wayang tidak hanya didominasi oleh Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Cirebon sendiri terdapat sentra kerajinan wayang khas Cirebon yang berbeda dengan wayang dari daerah lainnya.

Wayang-Golek-SmallKesenian wayang di Cirebon mulai tumbuh dan berkembang sejak dibawa oleh Wali Songo yaitu Sunan Kalijaga. Menurut Babad Cirebon, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali melakukan pertunjukan wayang sekaligus menjadi dalangnya dengan diiringi gamelan sekaten asli Cirebon.

Wayang kulit sebagai salah satu unsur budaya masyarakat memiliki peran yang penting dalam perkembangan sejarah Islam di Cirebon. Ketika dipentaskan dalam berbagai acara seperti perayaan kelahiran, sunatan, resepsi pernikahan, ataupun upacara tolak bala, wayang kulit tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreatif yang menghibur masyarakat.

Akan tetapi sebagai sarana dakwah di tana Jawa. Zaman mulai berkembang, budaya dan kesenian asing berbondonbondong masuk ke nusantara, dan mulai mendapatkan tempat di hati masyarakat. Budaya asli dianggap kuno dqan mulai ditinggalkan. Pemerintah harus berperan aktiv sehingga kesenian daerah seperti wayang mampu bertahan dengan gempuran budaya asing yang masuk ke nusantara.

Sumber: cirebonmedia.com