Kedelai Mahal, Pengrajin Tempe di Kota Cirebon Kecilkan Ukuran

668 views

20130829-140914_0banner960x90-crbbiz1Akibat rupiah yang melemah dan menguatnya dolar terhadap rupiah, pengrajin tempe di Kota Cirebon terpaksa mengurangi dan mengecilkan bentuk tempe yang diproduksi. Melemahnya nilai rupiah, membuat harga kedelai di impor dari USA semakin mahal. Untuk itulah, para pengusaha tempe di Kota Cirebon harus memutar otak agar tetap produksi, dan tidak mengalami kerugian dengan mengurangi bentuk tempe yang di produksi.

Hal itulah yang dilakukan M. Bejo, salah satu pengusaha tempe yang berada di Kelurahan Sukapura Kecamatan Kejaksan Kota Cirebon. Demi kelancaran produksi tempe nya, Bejo mau tak mau mengurangi bentuk produksi tempenya. Menurutnya, hal itu dilakukan karena mengikuti harga kedelai yang semakin mahal akibat melemahnya rupiah terhadap dolar amerika.

“Karena kedelai produksinya impor, kita sebagai pedagang mau tak mau harus mengikuti. Kalau harga kedelai naik, ya harus mengatur produksi, salah satunya ya mengurangi bentuk ukuran tempe yang di produksi sesuai harga,” ujar Bejo, Selasa (01/09).

iklanmentarihosting728x90Untuk harga sendiri, dikatakan oleh Bejo, harga per kilogram kedelai yang diimpor dari USA berkisar antara Rp. 7300-7500 per kilogram. Bejo, bisa saja membeli kedelai dari produk lokal, tapi itu tidak dilakukan olehnya dikarenakan harga kedelai lokal malah lebih mahal dari kedelai impor. Dengan ini, dirinya pun mengaku heran dengan harga kedelai lokal yang lebih mahal.

Biasannya, untuk kedelai lokal, dirinya pernah membeli kedelai lokal produksi Solo dan Semarang. “Kalau kedelai lokal, harga lebih tinggi dari impor, engga tahu kenapa bisa seperti itu. Dulu pernah beli dari lokal itu dari Solo dan Semarang,” tambahnya.

Bejo, memulai usaha tempenya sejak tahun 1977 sampai saat ini. Berawal dari kaka nya yang berbisnis tempe, dia pun mengikuti jejak kaka kandungnya ini. Dari produksi tempenya, dirinya memasarkan produknya di Pasar Kramat Siliwangi Kota Cirebon. Dengan bisnis tempennya ini, dirinya mampu menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat perguruan tinggi, yang salah satunya sedang menempuh S2 di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

“Usaha tempe mulai dari tahun 1977 sampai sekarang, alhamdulilah bisa untuk bayar kuliah anak saya yang sedang menempuh S2 di UGM,” tuturnya.

cirebon24-300x300Untuk produksi sendiri, dengan dua karyawan yang ia punya, setiap harinya ia mampu memproduksi tempe mencapai 250 kilogram, dengan penghasilan rata-rata Rp. 150-200 ribu per hari. Agar tidak merugi dan menyesuaikan dengan harga dolar yang terus naik, ia pun mengurangi bentuk tempe yang ia produksi.

” Ya kita siasati dengan mengurani bentuk ukuran, yang harga 5 ribu panjang 30 cm dan lebar 10 cm. Yang harga 4 ribu, panjang 34 dan lebar 8 cm.

Sumber: Cirebontrust